Slider Widget

Ads Here

Tuesday, July 28, 2020

Ibu, Ketahui Manfaat, Jenis, dan Efek Samping dari Imunisasi Polio pada Si Kecil oleh - kulitshinzui.uno

Halo sahabat selamat datang di website kulitshinzui.uno, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Ibu, Ketahui Manfaat, Jenis, dan Efek Samping dari Imunisasi Polio pada Si Kecil oleh - kulitshinzui.uno, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Polio adalah penyakit menular disebabkan oleh virus polio yang menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kerusakan di sistem saraf motorik. Hal tersebut bisa mengakibatkan kelumpuhan pada otot yang bersifat sementara, bahkan bisa permanen. Penyakit ini tidak ada obatnya, tapi bisa dicegah dengan pemberian imunisasi anak jenis polio. Seperti apa cara kerja vaksin polio dan apakah ada efek sampingnya?

Apa itu imunisasi polio?

efek samping imunisasi dpt

Fungsi dan manfaat imunisasi polio adalah mencegah penyakit polio atau lumpuh layu yang bisa membuat kelumpuhan bahkan berpotensi menyebabkan kematian.

Polio termasuk ke dalam imunisasi anak yang wajib diberikan sebelum bayi berusia 6 bulan, bersamaan dengan vaksin hepatitis B, DPT, dan HiB. Imunisasi polio juga termasuk dalam daftar imunisasi yang harus diulang, seperti vaksin MMR.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan dalam situs resminya bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus polio yang menyerang otak dan sumsum tulang belakang.

Akibat dari penyakit ini adalah tidak bisa menggerakan bagian tubuh tertentu, biasanya terjadi pada salah satu atau bahkan kedua kakinya. 

Ada dua jenis vaksin polio yang diberikan pada anak-anak, yaitu vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio suntik (IPV) apa yang membedakannya?

Vaksin polio oral (OPV)

Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) imunisasi polio yang diteteskan di mulut atau oral adalah virus polio yang masih aktif, tetapi sudah dilemahkan.

Ini membuatnya masih bisa berkembang biak di usus dan bisa merangsang usus dan darah, untuk membentuk zat kekebalan tubuh (antibodi) terhadap virus polio liar. 

Apa maksud virus polio liar? Ini artinya, kalau ada virus polio liar masuk ke dalam usus bayi, virus polio liar itu akan dimatikan oleh antibodi yang dibentuk di dalam usus dan darah.

Secara teknis, imunisasi polio oral berfungsi untuk mencegah virus polio liar berkembang biak agar tidak membahayakan bayi dan menularkan ke anak-anak lain.

Vaksin polio suntik (IPV)

Apa itu imunisasi polio suntik? Vaksin polio suntik, berisikan virus polio yang sudah tidak aktif (mati) sehingga imunisasi ini sering disebut Inactive Polio Vaccine (IPV).

Masih menurut IDAI, cara kerja vaksin polio suntik yaitu, virus polio yang sudah mati ini tidak bisa berkembang biak di usus dan tidak membuat kekebalan di usus, tapi masih bisa terjadi kekebalan di dalam darah.

Ini membuat virus polio liar masih bisa berkembang biak di usus, tanpa membuat anak merasa sakit karena ada kekebalan di dalam darah.

Namun ini hal yang buruk karena virus polio liar masih berkembang biak di usus dan bisa menyebar lewat feses atau tinja ke anak-anak lain. Ini membuat peluang anak-anak terkena penyakit polio lebih besar. 

Pada wilayah yang transmisi atau perpindahan virus polio liarnya masih tinggi, vaksin polio oral (OPV) harus diberikan pada bayi agar ususnya bisa mematikan virus polio liar dan menghentikan penyebarannya.

Anak yang terlambat imunisasi bisa membuat penyebaran penyakit ini menjadi lebih luas.

Siapa yang perlu mendapatkan vaksin polio?

Jadwal imunisasi polio

Center for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan pemberian imunisasi polio pada anak dilakukan 4 kali dengan interval atau jeda setiap satu bulan.

Namun tidak hanya anak-anak yang perlu diberikan imunisasi ini, imunisasi polio juga perlu diberikan pada orang dewasa. Berikut panduan dan penjelasannya.

Bayi dan anak-anak

Berdasarkan tabel jadwal imunisasi anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pemberian imunisasi polio dilakukan 4 kali sejak bayi baru lahir, yaitu:

  • Bayi usia 0-1 bulan
  • Bayi usia 2 bulan
  • Bayi usia 3 bulan
  • Bayi usia 4 bulan
  • Anak remaja usia 18 tahun (booster atau pengulangan)

Untuk bayi baru lahir, ia mendapatkan vaksin polio oral (OPV), lalu pada imunisasi polio berikutnya bisa diberikan suntik (IPV) atau OPV kembali. Pada dasarnya, anak-anak perlu mendapatkan satu kali imunisasi IPV.

Pemberian susu (baik ASI atau formula) bisa diberikan setelah imunisasi oral selesai dilakukan. Kolostrum yang terkandung di dalam ASI, memiliki antibodi tinggi yang bisa mengikat vaksin polio oral, sehingga bisa bekerja optimal.

Vaksin polio oral (OPV) wajib diberikan pada anak usia 0-59 bulan, meski sebelumnya sudah mendapatkan imunisasi yang sama. Inilah yang membuat WHO bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional Polio setiap tahun. 

Orang dewasa

Sebagian besar orang dewasa tidak memerlukan vaksin polio karena sudah mendapatkan imunisasi ini saat anak-anak.

Namun, ada tiga kelompok orang dewasa yang berisiko tinggi terkena polio dan perlu mempertimbangkan untuk mendapatkan vaksin polio, berdasarkan rekomendasi Center for Disease Control and Prevention (CDC) yaitu:

  • Bepergian ke negara dengan angka polio tinggi.
  • Bekerja di laboratorium dan menangani kasus yang mengandung virus polio.
  • Petugas kesehatan yang merawat pasien atau berhubungan dekat dengan penderita penyakit polio.

Ketiga kelompok ini termasuk yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio sama sekali, harus mendapatkan 3 kali vaksin polio suntik (IPV), dengan rincian:

  • Suntikan pertama bisa dilakukan kapan saja.
  • Suntikan kedua dilakukan 1-2 bulan setelah suntikan pertama.
  • Suntikan ketiga dilakukan 6-12 bulan setelah suntikan kedua.

Untuk orang dewasa yang sudah pernah mendapatkan 1-2 kali imunisasi polio sebelumnya, hanya perlu melakukan satu atau dua kali imunisasi ulang. Ini tidak bergantung dengan jeda waktu imunisasi pertama dilakukan.

Bila orang dewasa berisiko terpapar virus polio dan sudah mendapatkan imunisasi lengkap, baik oral maupun suntik, bisa mendapatkan imunisasi IPV sebagai booster. Jadwal pemberian imunisasi polio booster ini bisa dilakukan kapan saja dan berlaku seumur hidup.

Adakah kondisi yang membuat seseorang menunda pemberian vaksin polio?

Anak sakit demam

Pemberian imunisasi polio adalah upaya untuk mencegah penyakit yang menyerang sistem saraf dan otot manusia. Meski manfaatnya sangat banyak, ada beberapa kondisi yang membuat anak perlu menunda bahkan tidak diberikan vaksin polio, yaitu:

Alergi yang mematikan

Bila anak Anda memiliki alergi yang sangat parah sampai bisa mengancam nyawa karena bahan di dalam vaksin, disarankan untuk tidak mendapatkan imunisasi polio. Alergi yang membahayakan ini (anafilaktik) seperti:

  • Kesulitan bernapas
  • Detak jantung cepat
  • Kelelahan parah
  • Napas berbunyi

Konsultasikan dengan dokter atau petugas medis lain bila anak Anda memiliki alergi yang sangat berbahaya pada jenis obat tertentu.

Menderita sakit ringan (tidak enak badan)

Imunisasi tidak bisa diberikan ketika anak Anda sedang menderita sakit ringan, seperti batuk, pilek, atau demam. Dokter akan menyarankan untuk menunda pemberian vaksin dan meminta Anda untuk datang ketika si kecil sudah dalam keadaan sehat. 

Namun, IDAI menyarankan anak yang sedang batuk pilek tanpa demam, tetap bisa mendapatkan imunisasi polio oral (OPV), tetapi tidak untuk IPV. 

Efek samping vaksin polio

bayi mandi saat demam setelah vaksin polio

Sama dengan kinerja obat, imunisasi juga memiliki dampak dan pengaruh setelah pemberiannya. Namun efek samping imunisasi yang ditimbulkan cenderung ringan dan bisa hilang dengan sendirinya.

Berikut efek samping ringan setelah vaksin polio:

  • Demam ringan setelah imunisasi
  • Nyeri di area suntikan
  • Pengerasan kulit di area suntikan

Dampak imunisasi polio di atas bisa hilang dengan sendirinya dalam waktu 2-3 hari, sehingga Anda tidak perlu khawatir anak bisa sakit setelah imunisasi. Namun pada kasus yang sangat jarang terjadi, imunisasi polio memiliki efek samping cukup parah, yaitu:

  • Nyeri di bahu
  • Pingsan
  • Reaksi alergi parah yang terjadi beberapa menit atau jam setelah diimunisasi

Kasus di atas sangat jarang terjadi, perbandingannya adalah 1 dari 1 juta pemberian vaksin. Reaksi alergi yang terjadi biasanya seperti sesak napas, detak jantung berdegup kencang, kelelahan sangat parah, sampai napas yang berbunyi.

Kapan harus ke dokter?

periksa ke dokter

Anda perlu berkonsultasi ke dokter ketika anak Anda mengalami efek samping berat setelah pemberian vaksin polio. Berikut beberapa kondisi yang membuat Anda perlu berkonsultasi ke dokter, mengutip dari Family Doctor:

  • Ruam di kulit (gatal sampai kulit seperti terbakar)
  • Mengalami masalah pernapasan
  • Tubuh dingin, lembap, berkeringat
  • Hilang kesadaran

Saat berkonsultasi dengan dokter, beritahu bahwa anak Anda baru mendapatkan imunisasi polio, sehingga bisa ditangani dengan tepat sesuai kondisi.

Namun harus dipahami bahwa manfaat imunisasi lebih besar dibanding efek sampingnya, sehingga penting diberikan untuk si kecil. Pasalnya, anak yang tidak diimunisasi lebih rentan terkena penyakit berbahaya.

Itulah tadi informasi dari slot online mengenai Ibu, Ketahui Manfaat, Jenis, dan Efek Samping dari Imunisasi Polio pada Si Kecil oleh - kulitshinzui.uno dan sekianlah artikel dari kami kulitshinzui.uno, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

No comments:

Post a Comment